Musuh Alami Pembasmi Hama Kelapa Sawit

September, 20th 2013

Selamat sore penikmat setia blog Tim Kelapa Sawit Riau,
Jumat kali ini penulis ingin membahas beberapa musuh alami untuk membasmi hama di Kebun Kelapa Sawit. Musuh alami yang dimanfaatkan oleh perkebunan kelapa sawit, yaitu ;

1.Burung hantu sebagai musuh alami tikus
Kenapa burung hantu? Burung hantu lebih efektif karena jangkauannya seluas 20 ha. Kandang burung hantu diletakkan di tengah areal tersebut. Selain itu burung hantu mempunyai sifat kembali ke kandangnya. Jadi walaupun burung hantu terbang mengitari kebun, dia bakal kembali lagi ke sarangnya. Perawatan burung hantu juga tidak sulit dan terbukti efektif mengendalikan hama tikus. Salah satu hal yang harus diperhatikan oleh pengelola kebun kelapa sawit jika menggunakan burung hantu yaitu, jangan membuat kandang burung hantu dekat sumber cahaya. Hal ini bisa menyebabkan burung hantu tersebut stress.

Kasus yang pernah penulis temukan di salah satu perkebunan swasta di daearah Riau menggunakan burung hantu sebagai musuh alami tikus. Setiap 3 bulan sekali dilakukan sensus burung hantu. Sedangkan petani swadaya yang dibina oleh perusahaan tersebut belum menggunakan burung hantu sampai sekarang. Ke depannya kata salah seorang petani, “kami akan menggunakan burung hantu untuk menangkal tikus. Saat ini hama tikus dibiarkan di kebun kelapa sawit. Sekarang sedang menyiapkan dana untuk membuat kandang dan membeli burung hantu. Biaya yang dibutuhkan untuk membuat kandang burung hantu kira-kira Rp. 500.000,00.

2.Bunga pukul 8 sebagai inang bagi predator yang membasmi ulat api.
Berdasarkan informasi yang penulis peroleh bunga pukul 8 merupakan inang bagi serangga yang merupakan musuh alami dari ulat api. Bunga pukul 8 ditanam di sekitar areal kebun. Penggunaan bunga pukul 8 sebagai tanaman parasit membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu sekitar 3 bulan.

Salah satu kelompok petani yang telah di sertifikasi RSPO menyatakan bahwa sekarang telah menanam bibit bunga pukul 8 sebanyak 200 batang yang akan digunakan sebagai pembasmi ulat api. Bunga pukul 8 ini nanti akan dibagikan kepada pengurus KT (Kelompok Tani) dan ditanami di kebun masing-masing.

Asosiasi Amanah berharap dengan semakin banyak menggunakan cara-cara alami untuk pengendalian hama dan penyakit di perkebunan ke depannya diharapkan mereka mampu menerapkan P & C RSPO secara keseluruhan. Selain itu pengelolaan perkebunan secara alami permasalahan lingkungan karena kelapa sawit mulai berkurang. Sehingga, kecaman dunia terhadap produk kelapa sawit semakin berkurang. Petani telah sadar dan peduli lingkungan sejak mengikuti program RSPO.

3.Kotoran harimau sebagai musuh alami babi
Sebelumnya penulis tidak mengetahui kalau kotoran harimau bisa dijadikan sebagai musuh alami pembasmi babi. Informasi ini penulis dapat dari penyuluh perkebunan yang mengatakan bahwa bisa tidak lembaga tempat saya bekerja menyediakan kotoran harimau. Kemudian mengalirlah informasi dari penyuluh tersebut bahwa petani-petani disini menggunakan kotoran harimau untuk membasmi babi yang masuk ke kebun.

Pengetahuan ini tidak diketahui awalnya darimana, hanya masyarakat daerah ini sudah biasa menggunakan kotoran harimau. Selama ini mereka membeli kotoran harimau ke kebun binatang di Kota Bukittinggi. Kotoran yang dibeli tersebut tidak cukup menampung permintaan petani. Kotoran harimau disini semakin banyak digunakan oleh petani, karena penggunaannya tidak membutuhkan biaya yang besar. Jika tidak menggunakan kotoran harimau petani harus memagar seluruh kebun kelapa sawitnya dan itu membutuhkan biaya yang besar.

Kotoran harimau tersebut diletakkan di sekitar perkebunan. Jika babi mengganggu tanaman kelapa sawit dan mencium kotoran tersebut, mereka tidak berani mendekat. Mungkin babi menyangka bahwa harimau ada di sekitar kebun tersebut. Informasi ini penulis dapat sekilas dan setelah penulis menelusi literature yang membahas ini dan bertanya ke orang-orang yang berecimpung di dunia kelapa sawit menyatakan mereka kurang tahu mengenai informasi ini.

Sedikit sekali informasi yang membahas penggunaan kotoran harimau untuk mengatasi hama babi. Salah satu artikel yang penulis baca teknik pengendalian hama secara tradisional di Sumatra Selatan, di pebukitan Serelo, Kabupaten Lahat, masyarakat menggunakan minyak harimau untuk menakut-nakuti hama babi sehingga tidak berani masuk ke kebun mereka (http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2012/02/28/celeng-verboden-jimat-anti-babi-443096.html).

Informasi tersebut, kurang lebih sama dengan yang dijelaskan oleh penyuluh bahwa harimau sebagai raja hutan, mampu menakuti binatang-binang lainnya. Cukup dengan meletakkan kotorannya kebun kami bisa bebas dari dari serangan babi. Selain itu kami tidak perlu mengeluarkan biaya banyak untuk pembuatan pagar. Kalau kita lihat, dari cerita penyuluh tersebut kita mendapat suatu pengetahuan tentang kearifan lokal. Hal ini terlihat bagaimana petani dan penyuluh belajar dari alam untuk mengendalikan hama babi.

Mungkin informasi kecil ini bakal berguna bagi pembaca yang ingin mengelola kebun kelapa sawit secara lestari. Pengelolaan kebun kelapa sawit bisa dimulai dengan pemanfaatan musuh alami hama yang mengganggu tanaman dan mengurangi pemakaian bahan kimia untuk perawatan kebun. Diharapkan nantinya kebun kelapa sawit bisa menghasilkan pendapatan bagi kita dan lingkungan tetap terjaga.

Penulis : Rafselia Novalina/RN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: