Pengalaman Asosiasi Amanah Dalam Mengikuti Kegiatan Sertifikasi RSPO

Pekanbaru, 13 September 2013

Hari ini penulis ingin berbagi cerita dengan teman-teman pembaca setia blog ini tentang pengalaman Asosiasi Amanah mendapatkan sertifikasi RSPO.  Petani mandiri kelapa sawit Asosiasi Amanah merupakan petani yang pertama di Indonesia mendaoatkan sertifikasi RSPO dan kedua di dunia setelah Thailand. Hebat ya Asosiasi Amanah, cuma kalah selangkah saja sama Thailand kemaren.

Hasil tulisan ini merupakan rangkuman kegiatan yang telah penulis, WWF Indonesia, petani swadaya, serta pihak-pihak yang telah membantu kami dalam kegiatan sertfikasi RSPO.

Wajah-wajah ceria Asosiasi Amanah setelah audit Sertikasi RSPO

Wajah-wajah ceria Asosiasi Amanah setelah audit Sertikasi RSPO

Asosiasi Amanah merupakan group sertifikasi yang telah diaudit oleh BSI untuk Sertifikasi Kelapa Sawit Petani Swadaya. Asosiasi Amanah telah mempersiapkan seluruh dokumen dan menerapkan prinsip dan kriteria RSPO selama setahun yang dibantu oleh berbagai pihak. Pihak-pihak yang membantu proses sertifikasi RSPO adalah WWF Indonesia Program Riau, RSPO, PT. Asian Agri, Pemerintah, Masyarakat Lokal, serta Petani.

Asosiasi ini awalnya terbentuk karena keinginan berbagai pihak untuk mewujudkan Sertifikasi Kelapa Sawit untuk Petani Swadaya. Sehingga, WWF Indonesia sebagai fasilitator bagi Petani Swadaya Kelapa Sawit di Desa Trimulya Jaya Kecamatan Ukui Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau menggandeng berbagai pihak untuk mewujudkan hal tersebut melalui berbagai program pelatihan dan PT. Asian Agri sebagai mitra utama Asosiasi dalam hal membina Petani Swadaya.

Petani Swadaya ini telah mempunyai kekuatan untuk sertifikasi RSPO, hal ini disebabkan petaninya telah mendapat binaan dari PT. Asian Agri tentang pengelolaan kebun kelapa sawit berkelanjutan. Program pembinaan ini merupakan salah satu bentuk CSR PT. Asian Agri untuk masyarakat lokal tempat beroperasinya kegiatan perusahaan. Pembinaan yang telah dilakukan oleh PT. Asian Agri dengan menyediakan berbagai fasilitas untuk petani swadaya. Fasilitas-fasilitas yang telah diberikan tersebut, yaitu adanya mandor swadaya, asisten kebun swadaya, penyediaan paket pupuk dari perusahaan, penjualan TBS ke perusahaan. Program CSR ini terbentuk setelah adanya MOU (Memorandom of Understanding) antara pihak perusahaan dan petani.

WWF Indonesia sebagai fasilitator bagi Asosiasi Amanah memfasilitasi Asosiasi Amanah dalam memberikan pelatihan pembentukan ICS yang dilatih oleh lembaga BIOCERT. Selain pelatihan tersebut WWF Indonesia juga memberikan pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan persiapan sertifikasi RSPO, seperti pelatihan HCV.

Sebelumnya terbentuknya Asosiasi Amanah, seluruh petani swadaya melakukan transaksi penjualan TBS melalui KUD Desa. Transaksi penjualan sama dengan transaksi penjualan petani plasma. Tetapi, sejak terbentuknya asosiasi petani swadaya mempunyai sebuah lembaga untuk melakukan transaksi penjualan TBS. Sejak tanggal 1 Februari 2013 seluruh proses penjualan TBS telah menggunakan DO Amanah dan Asosiasi Amanah mempunyai rekening sendiri untuk menjalankan kegiatan perekonomian asosiasi.

Bagaimana peran KUD dan Asosiasi bagi petani di Desa Trimulya Jaya? Pak Narno sebagai Group Manajer Asosiasi Amanah menjawab persoalan tersebut. KUD dan Asosiasi merupakan suatu lembaga yang mewadahi petani dalam hal penjualan TBS. Sebelum asosiasi terbentuk semua proses penjualan TBS dilakukan melalui KUD baik mereka sebagai petani plasma maupun petani swadaya. Pada dasarnya KUD ini merupakan lembaga yang dimiliki oleh petani plasma, fungsi ini berubah sejak bergabungnya petani swadaya ke dalam KUD untuk melakukan proses penjualan TBS. Tetapi fungsi ini kembali berubah sejak petani swadaya memiliki asosiasi untuk melakukan proses penjualan TBS. Selain berfungsi sebagai tempat penjualan TBS, KUD juga berfungsi untuk menyediakan paket pupuk dari pabrik untuk petani swadaya dan plasma yang sistem pemotongan biaya pupuk dilakukan perbulan, dan penyediaan APD (Alat Pelindung Diri) saat panen. Asosiasi belum memiliki fungsi dalam penyediaan paket pupuk dari pabrik sampai saat ini.

Persiapan yang dilakukan oleh Asosiasi Amanah menjelang sertifikasi RSPO, yaitu :

1.    Identifikasi petani swadaya berdasarkan lingkungan dan sosial ekonominya.

2.      Identifikasi skateholders/pihak-pihak yang mendukung sertifikasi RSPO.

3.      Organisasi yang mempunyai kapasitas dan berkuasa mengimplementasikan suatu keberlanjutan.

Selain persiapan di atas, untuk melengkapi dokumen standar RSPO dibentuk struktur organisasi ICS yang terdiri dari :

1.      Manager :

  • Mengelola asosiasi melalui kebijakan dan prosedur yang telah disepakati dengan anggota.
  •  Kontak person dengan lembaga terkait.
  • Mengkoordinir komite persetujuan internal, penyuluhan dan pendaftaran, penilaian internal, dan pembelian/pemasaran.

2.      Komite Persetujuan Internal :

  •  Menyetujui/menyepakati setiap kebijakan baru yang dibentuk dengan manajer group.
  • Menjatuhkan sangsi kepada anggota apabila melakukan suatu pelanggaran sesuai dengan kesepakatan asosiasi. 

3.      Penyuluhan dan Pendaftaran

  •  Sebagai penyuluh dalam kelompok yang membatu petani dalam memproduksi sawit berdasrakan standar RSPO.
  •   Melakukan pendataan dan registrasi.

4.      Penilaian/ Inspeksi Internal

  •  Memeriksa kebun dan catatan petani.
  •  Menangani tindakan perbaikan dengan baik (CAR).

5.      Pembelian dan Pemasaran

  •   Melakukan prosedur pemasaran TBS berdasarkan standar RSPO.
  •  Mengecek kelengkapan identitas petani dan jumlah TBS yang dihasilkannya.

Orang yang tergabung dalam struktur kepengurusan Asosiasi merupakan perwakilan dari masing-masing KUD dan Kelompok Tani, selain itu untuk Komite Persetujuan Internal salah satu anggotanya merupakan Asisten Kebun PT. Asian Agri. Perwakilan dari masing-masing KUD ini menjabat di Manajer Group dan Komite Persetujuan Internal. Sedangkan perwakilan dari kelompok tani menjabat di bagian Penyuluhan dan Penilaian Internal.

Setelah terbentuknya Struktur Organisasi Asosiasi Amanah, WWF Indonesia bekerja sama dengan asosiasi, petani, perusahaan, dan pemerintah memberikan pelatihan-pelatihan kepada anggota asosiasi untuk memenuhi standar sertifikasi RSPO. Dalam salah satu pelatihan peserta juga menjadi TOT (Traning of Trainer). Pelatihan ini juga berfungsi menjadi sarana komunikasi bagi ICS, fasilitator, dan perusahaan.

Selama proses sertifikasi RSPO asoasiasi bekerja keras untuk menyiapkan segala dokumen yang menjadi standar asosiasi. Petani belajar menjalankan perkebunan sesuai dengan SOP yang telah dibuat oleh fasilitator dan RSPO. Menjelang audit sertifikasi kelapa sawit pada bulan Februari ICS mencek ulang semua dokumen-dokumen tersebut. Selain itu, Penilai Internal juga melakukan Inspeksi Internal ke kavling-kavling anggota yang dipimpim oleh Penilai HCV. Sedangkan, untuk pemeriksaan dokumen dilakukan oleh Fasilitator WWF Indonesia, Komite Persetujuan Internal, dan Mandor Swadaya.

Audit Sertifikasi Kelapa Sawit Petani Swadaya diaudit oleh Lembaga Audit BSI yang terdiri dari Aryo Gustomo (Ketua Tim), Nanang Mualid (Anggota Tim), Pratama Agung Sedayu (Anggota Tim). Audit dilaksanakan pada tanggal 11 Februari – 15 Februari 2013 di Desa Trimulya Kecamatan Ukui. Terdapat dua temuan minor oleh tim audit terkait dengan pengelolaan perkebunan di lahan gambut dan pemahaman petani tentang RSPO. Saat tim audit menanyakan kepada salah seorang petani mengenai RSPO, petani tersebut tidak mengetahui tentang RSPO dan manfaat mereka mengikuti sertifikasi RSPO. Untuk menutupi temuan minor tersebut pada malam harinya dilakukan pelatihan untuk beberapa kelompok tani tentang RSPO. Sehingga, ada kemajuan perbaikan untuk hari berikut.

Selama audit, setiap ditemukan kesalahan atau ketidaklengkapan dokumen langsung diperbaiki oleh tim. Sehingga, temuan-temuan kecil tersebut dapat diatasi. Semua anggota ICS juga ditanya tentang pengelolaan kebun lestari berdasarkan standar RSPO. Untuk mengatasi rendahnya pemahaman ICS tentang pengelolaan kebun yang lestari, maka setiap malam selama audit ICS lembur di KUD untuk menerima pengarahan dari salah satu Komite Persetujuan Internal yang paham tentang standar RSPO. Hasil akhir dari audit ini Asosiasi Amanah lulus Sertifikasi Kelapa Sawit Petani Swadaya dengan perbaikan. Hal ini juga menjadikan Asosiasi Amanah sebagai Kelompok Petani Swadaya Kelapa Sawit yang berhasil menjalankan sertifikasi kelapa sawit pertama di Indonesia.

Itu merupakan pengalaman singkat Asosiasi Amanah  mengikuti proses sertifikasi RSPO. Sekarang pengurus Asosiasi Amanah telah siap menjalankan fungsi sebagai struktur di Asosiasi Amanah, untuk mempertahankan sertifikasi RSPO. Hal ini dibuktikan oleh kesiapan ICS (Internal Control System) mengikuti pelatihan ICS tanggal 10 – 12 September 2013 di KUD Bakti Desa Trimulya Jaya.

Penulis : Rafselia Novalina/RN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: