Sekilas Pengetahuan tentang Prinsip dan Kriteria RSPO

Pekanbaru, 30 Agustus 2013

Selamat pagi, selamat datang kembali hari jumat terakhir di bulan ini.

Kami team palm oil for smallholders akan mengupdate pengetahuan kita semua tentang Prinsip dan Kriteria RSPO yang penulis rangkum berdasarkan ilmu yang penulis dapat dari pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh WWF Indonesia Program Riau.

IMG_0239

RSPO yaitu cara berproduksi minyak kelapa sawit yang berkelanjutan. Sertifikasi kelapa sawit diperoleh dengan menerapkan P & C RSPO yang telah disusun oleh tim RSPO. Proses penyusunan P & C RSPO melibatkan tenaga FASDA terlatih, Sub Direktorat Pelatihan dan Kelembagaan Tanaman Tahunan, Sub Direktorat Budidaya Tanaman Tahunan, Direktorat Jendral Perkebunan, WWF Indonesia dan INA SWG di bawah koordinasi RSPO Indonesia Liaison Office Jakarta.

RSPO bertujuan untuk menghasilkan minyak sawit yang berkelanjutan. Hal tersebut merupakan tuntutan pasar dunia dan peraturan Indonesia. RSPO juga memberikan perhatian terhadap petani kelapa sawit swadaya, karena kelapa sawit mempunyai peranan penting dalam pengentasan kemiskinan, penyebar luasan pembangunan, dan sumber devisa Negara.

Penerapan RSPO ini bisa diikuti oleh petani swadaya apabila secara formal memohon untuk bergabung dengan group produsen dan mematuhi standar RSPO untuk menerapkan sistem pertanian berkelanjutan. Group bisa bersertifikasi group RSPO apabila group bisa mematuhi standar RSPO untuk Produksi Minyak Sawit Berkelanjutan. Salah satu hal yang harus dipahami oleh group yang ingin mendapatkan sertifikasi RSPO adalah Prinsip dan Kriteria RSPO. Adapun Prinsip dan Kriteria RSPO untuk Petani Swadaya, yaitu :

1)      Komitmen terhadap transparansi

Dokumen group harus bisa diakses oleh berbagai pihak yang berkepentingan dalam sertifikasi RSPO seperti NGO, Perusaaan, Masyarakat, Petani, Peneliti, dan lain sebagainya. Dokumen yang harus tersedia merupakan seluruh dokumen yang menjadi standar Group RSPO

2)      Kepatuhan terhadap hukum dan aturan yang berlaku

Patuh terhadap aturan yang berlaku, baik itu peraturan lokal/adat, nasional, maupun internasional. Selain itu, juga memahami kearifan lokal dan budaya masyarakat lokal sehingga dalam kegiatan group sertifkasi RSPO tidak menimbulkan konflik dengan masyarakat lokal.

3)      Komitmen terhadap kelayakan keuangan dan ekonomis jangka panjang

Group harus mempunyai dokumentasi rencana bisnis tahunan, untuk mengetahui kekuatan permodalan dan pengembangan bisnis group dalam menjalankan kegiatan standar sertifikasi RSPO.

4)      Penggunaan praktik terbaik oleh petani

Hal terpenting dalam prosedur sertifikasi RSPO adalah pengelolaan lingkungan. Petani atau kelompok yang tergabung dalam group harus memperhatikan cara pengelolaan tanah, sistem penyemprotan, sistem pemupukan kelapa sawit, sistem panen, sistem pemeliharaan jalan, sistem pengelolaan lahan gambut untuk kelapa sawit. Hal-hal tersebut harus dilakukan oleh petani dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit. Misalnya, untuk penyemprotan kebun Asosiasi Amanah membentuk TUS (Tim Unit Semprot) yang bertugas untuk melakukan penyemprotan di perkebunan petani. TUS (Tim Unit Semprot) ini telah mendapatkan pelatihan praktek terbaik kebun.

5)      Tanggung jawab lingkungan dan konservasi sumber daya serta keanekaragaman hayati

Group harus menekankan anggota untuk bertanggung jawab terhadap lingkungan serta konservasi sumber daya dan keanekaragaman hayati. Hal yang perlu diperhatikan oleh anggota group dalam mengelola perkebunan adalah keberadaan satwa dan fauna di perkebunan. Seringkali pembukaan lahan perkebunan mengancam keberadaan populasi satwa dan fauna, untuk itu perlu dilakukan pengendalian satwa langka dengan cara mengenali hewan tersebut. Setelah mengenali hewan tersebut laporkan ke lembaga yang menangani keberadaan hewan dengan cara membuat dokumen tertulis ke lembaga tersebut. Tetapi, secara biologis hewan tidak akan datang ke suatu tempat apabila disana tidak ada komunitasnya.

6)      Pertimbangan tanggung jawab pegawai serta individu dan komunitas yang dipengaruhi oleh petani

Group harus memperhatikan keselamatan kerja pegawai terutama kalau pekerjanya adalah perempuan. Seringkali pelecehan seksual terjadi pada pekerja perempuan, untuk mengatasi hal tersebut group bertanggungjawab penuh terhadap keselamatan kerja mereka. Selain perempuan, group dilarang untuk mempekerjakan anak-anak di bawah umur.

7)      Pengembangan penanaman baru yang bertanggung jawab

Penanaman baru kelapa sawit bisa dilakukan apabila tidak merambah hutan dan sudah mendapat izin usaha dari lembaga terkait dan masyarakat lokal. Pengembangan penanaman baru harus memperhatikan aspek dampak lingkungan, seperti tidak boleh membakar lahan. Lahan harus dikelola dengan sistem ramah lingkungan.

8)      Berkomitmen terhadap peningkatan terus menerus dalam bagian-bagian utama aktivitas

      Komitmen anggota group dalam meningkatkan pengolahan perkebunan kelapa sawit harus   memperhatikan aspek sosial dan lingkungan yang berkelanjutan.

 

                                                                                                                      RN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: